Senin, 29 Oktober 2012

Eratkanlah Ikatannya

Ya Allah Engkau mengetahui bahwa..
hati-hati ini telah berkumpul kerana mengasihi Mu
Bertemu untuk mematuhi perintah Mu
Bersatu memikul beban dakwah Mu
Hati-hati ini telah mengikat janji setia..
untuk mendaulat dan menyokong syariatMu

Maka eratkan lah ya Allah akan ikatannya
Kekalkan kemesraan antara hati-hati ini
Tunjukkanlah kepada hati-hati ini..
akan jalannya yang sebenar
Penuhkanlah piala hati ini..
dengan limpahan iman, keyakinan dan keindahan tawakkal kepada Mu
Hidup suburkanlah hati-hati ini..
dengan makrifat, pengetahuan sebenar tentangMu

Jika Engkau mentakdirkan mati
Maka matikanlah pemilik hati-hati ini..
sebagai para syuhada’ dlm perjuangan agama Mu

Engkau lah sebaik-baik sandaran..
dan sebaik-baik penolong ya Allah
Perkenankanlah permintaan ini
Amin ya rabbal A’alamin..

Selasa, 28 Agustus 2012

Perempuan di Balik Pintu

Suatu waktu, terdengar suara memanggil-mangil namaku dari luar kamar kos. Tapi ini beda. Suaranya terdengar tak lantang, apalagi jelas. Justru yang terdengar suara serak akibat tangisan tertahan. Sebelum aku menyahut, pintu itu sudah terbuka sepertiganya. Deg. Kaget pasti. Terlihat seorang perempuan dengan muka sembab, tangan kananya membawa selembar tisyu yang sudah basah akibat airmatanya. Suaranya masih serak dan berat ketika memanggil namaku. Tanpa disuruh Ia masuk dan langsung duduk diatas tempat tidurku. Aku pun mengikutinya sambil duduk di karpet tepat didepanya. Aku pegang tanganya. Dingin. Tangisanya belum juga berhenti. 

Akupun belum berani mengajukan sebuah pertanyaan walaupun di dalam hati kata "kenapa?" sudah memenuhi ruang yang tersedia. Ketika seorang perempuan menangis, ada dua kemungkinan, yang pertama jelas karena sedih, yang kedua karena terharu. Tapi kadang-kadang tidak bisa dibedakan. Walaupun hatiku telah bergemuruh menebak-nebak semua kemungkinan, namun belum satu katapun terlontar dari mulutku. Menunggu Ia behenti menangis hingga bisa ditanyakan apa yang terjadi. Yang bisa kulakukan hanya memegang tanganya sambil menenangkan.

Beberapa menit kemudian..
"Aku bener-bener gak nyangka dan..", itu kalimat pertama Ia ucapkan ketika aku tanya kenapa?. Pelan-pelan Ia mulai menyeka airmatanya dengan tisyu yang sudah basah. Tanpa diminta aku langsung menyodorkorkan tisu baru yang ada di meja. Raut mukanya tidak menunjukkan beban, tapi kenapa menangis?, tanyaku dalam hati.

"beberapa hari yang lalu, aku liat episode wisata hatinya ust. Yusuf Mansyur yang temanya Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.." Akhirnya Ia mulai membuka cerita. Aku mendengarkan dengan seksama. Seperti yang aku ketahui bahwa Ia adalah penggemar berat ust. Yusuf Mansyur. Setiap jam 05.00 pagi setelah shalat subuh dan tilawah, Ia selalu menyempatkan untuk melihat acara tersebut. Setiap hari. Semuanya yang telah Ia lihat, Ia dengar dari ust. tersebut berusaha diamalkanya dalam kehidupan sehari-hari. Aku sedikit tahu tentang tema itu, kurang lebih maksudnya adalah ketika kita punya suatu keinginan atau masalah, jangan ngomong dulu ke orang lain, tapi Allah dulu. Kemudian baru ikhtiar. Kalau dalam ikhtiar tersebut bertemu "bimbang", tanya Allah lagi. Jika sudah ikhtiar. Lapor ke Allah juga lewat shalat-shalat wajib atau sunnah. Dan Ia sudah mempraktekkan teori tersebut. Itulah yang membuat Ia mengangis sesenggukan seperti itu. Aku baru tahu.

"Jadi kemaren kan aku cuma punya uang 300 lebih dan.." Ia mulai melanjutkan cerita. "dan seperti kamu tau sendiri kemaren bu Ina butuh uang dan aku pinjemin ke dia 300 ribunya itu. Sudah beberapa hari ini belum dibalikin, padahal uang itu buat beli tiket pulang nanti siang.." Ia bertutur panjang lebar. Akupun hanya mendengarkan sambil "oooh", "terus?", "kok gitu?", "iya".

"Tapi aku gak masalah uang itu ada di bu Ina. Aku gak mau nagih langsung soalnya aku tau sendiri bu Ina juga butuh banget uang itu. Terus aku bilang sama Allah, seperti apa yang dibilang ust Yusuf mansyur kalo ada masalah bilangnya ke Allah dulu. Padahal kemaren-kemaren aku mau bilang ke kamu, dan mau pinjem uang. Tapi aku gak jadi cerita dan cuma berdo'a setiap selesai shalat. Aku sengaja gak bilang ke siapa-siapa sampai beberapa jam sebelum aku pergi beli tiket. Bayangkan, aku mau beli tiket ntar siang, tapi sampai sekarang aku gak pegang uang sama sekali. Eeeh dan, tiba-tiba ada sms masuk dari kakak aku barusan..." Ia melanjutkan sambil sesekali mengusap air mata dengan tisyunya. Kakak adalah panggilan  sayang nya buat suaminya. Dia adalah pengantin baru yang terpaksa tidak bersama suaminya karena masih harus melanjutkan S2 nya di jogja. Ia adalah orang yang selalu mengkoordinir teman-teman kos untuk kegiatan baksi sosial. Dan teman-teman satu kosku sangat menyukainya.

"sms itu berisi katanya kakak udah ngirim uang buat aku beli baju lebaran, katanya sekalian titip flashdisk. Padahal aku tau kakak masih punya tanggungan banyak..." Uang itu bernilai sejumlah uang yang Ia butuhkan untuk beli tiket. Tidak kurang, tidak lebih.

"Subhanallah daan. Aku gak nyangka banget. Allah maha mendengar hambaNya. Tau gak, dari tadi aku nyuci sambil nangis gak berenti-berenti. Ternyata benar, jangan bilang dulu ke manusia, bilang dulu ke Allah. Nanti akan di kasih sama Allah apa yang kita butuhin. Aku udah nahan-nahan gak pinjem ke kamu, ternyata kalo kita sabar bakal di kasih juga sama Allah tanpa kita minta-minta sama manusia. Allah yang datang sendiri ke kita daan.." aku pun merinding setelah mendengar cerita itu.

Masya Allah, ternyata teori Allah dulu, Allah lagi, Allah terus benar adanya. Ternyata Ustadz pun juga telah membuktikanya.

Wallahu a'lam. Cerita ini benar adanya. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita alami. Tidak ada yang kebetulan didunia ini. Semuanya telah tertuliskan.



Selasa, 31 Juli 2012


Semoga ramadhan kali ini lebih barokah :D

Dibalik Ramadhan


Al-Quran menegaskan bahwa Ramadhan memiliki 3 sebutan sekaligus makna. Pertama, sebagai Bulan Puasa. Pada bulan inilah umat islam diwajibakan untuk melaksanakan puasa dan melaksanakan ibadah-ibadah lain yang mendukung pelaksanaan ibadah puasa.

Kedua, Ramadhan juga disebut sebagai Sahrul Qur'an (Bulan Alquran). Karena pada bulan ini Alquran diturunkan oleh Allah pertama kali. Bukan hanya itu, Bulan Al-Quran juga dimaknai sebagai bulan untuk lebih dapat memahami kandungan Al-quran lalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, Ramadhan juga disebut sebagai Bulan Doa. Diartikan demikian dikarenakan Allah menjanjikan bahwa Allah akan menjawab serta mengabulkan setiap doa yang diminta oleh hambanya.

Berhubungan dengan doa, terdapat persepsi yang perlu kita luruskan. Allah telah berjanji untuk mengabulkan  doa hambanya, namun dalam proses memenuhi doa, terdapat tiga kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, Allah akan langsung mengabulkan doa hambanya tepat setelah hambanya meminta. Namun hal ini akan sangat sulit terjadi pada sembarang orang. 

Kedua, Allah akan mengabulkan doa hambanya secara perlahan-lahan bahkan terkadang secara lambat. Proses inilah yang terkadang membuat manusia tidak sabar dan membuat manusia merasa putus asa dalam berdoa, namun pada dasarnya hal ini merupakan salah satu bentuk unjian dari Allah.

Ketiga, Allah tidak memberikan hal yang diminta oleh hamba-Nya namun mengganti dengan sesuatu yang lebih baik bagi hamba-Nya. Allah memahami setiap kebutuhan hamba-Nya bahkan melebihi pemahaman hamba-Nya terhadap dirinya sendiri.

sumber :tausiyah ramadhan

Rabu, 30 Mei 2012

AWAKEN

We were given so many prizes
We changed the desert into oasis
We built buildings of different lengths and sizes
And we felt so very satisfied
We bought and bought
We couldn’t stop buying
We gave charity to the poor ’cause
We couldn’t stand their crying
We thought we paid our dues
But in fact

To ourselves we’re just lying
Oh

I’m walking with my head lowered in shame from my place
I’m walking with my head lowered from my race
Yes it’s easy to blame everything on the west
When in fact all focus should be on ourselves

We were told what to buy and we’d bought
We went to London, Paris and
We made show we were seen in the most exlusive shops
Yes we felt so very satisfied

We felt our money gave us infinite power
We forgot to teach our children about history and honor
We didn’t have any time to lose
When we were.. (were)
So busy feeling so satisfied

I’m walking with my head lowered in shame from my place
I’m walking with my head lowered from my race
Yes it’s easy to blame everything on the west
When in fact all focus should be on ourselves

We became the visuals without a soul
despite the heat
Our homes felt so empty and cold
To fill the emptiness
We bought and bought
Maybe all the fancy cars
And bling will make us feel satisfied

My dear brother and sister
It’s time to change inside
Open your eyes
Don’t throw away what’s right aside
Before the day comes
When there’s nowhere to run and hide
Now ask yourself ’cause Allah’s watching you

Is He satisfied?
Is Allah satisfied?
Is Allah satisfied?
Is Allah satisfied?

Oh
I’m walking with my head lowered in shame from my place
I’m walking with my head lowered from my race
Yes it’s easy to blame everything on the west
When in fact all focus should be on ourselves

-Maher Zain-

Sabtu, 28 April 2012

GESA GESU SESU SASA


Sekilas kalimat itu asing terdengar. Ya, sebelum aku tahu makna sebenarnya dari kalimat itu.Sebelum aku bergabung menjadi sebuah keluarga Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi UGM. Sebelum aku menjalani sebuah proses perjuangan dalam kebersamaan yang disebut dengan PDL. Sebelum aku tergabung dalam sebuah angkatan yang solid. 2010. Sebelum, dan sebelum semuanya kulalui. Aku memang tidak tahu apa makna kalimat tersebut.

Makna. Bukan sekedar tahu ataupun mampu menguraikan kepanjangan dari kalimat tersebut. Bukan sekedar melantangkanya di setiap acara himpunan. Bukan sekedar syair sorakan sebagai pemeriah sebuah pertandingan. Bukan sekedar tulisan lusuh yang ditempel didepan himpunan, diguyur hujan luntur dan terkena terikpun akan berpudar.Lebih dari itu. Melainkan sebuah kalimat yang ketika didengungkan akan memberikan percikan semangat bagi orang-orang yang mendengarnya. Menggugah kesadaran ketika teman membutuhkan sebuah uluran tangan. Memantik sedikit kreatifitas ketika buntu dalam pemecahan solusi. Pengingat sebuah kebersamaan ketika sebuah himpunan terpecah belah. Bahkan lebih dari itu.

Masih begitu jelas dikepala ketika memori itu terkengan kembali begitu saja.
Sebuah memori yang sangat berharga. 

" Geologiku satu, gesa gesu sesu sasa
 Geologi satu geologi sama senang susah sama-sama"

Berkali-kali nyair tersebut dinyanyikan. Sebagai teman selama perjalanan panjang menjemput sebuah kebersamaan. Sebagai pemantik semangat ketika lelah. Sebagai penguat hati-hati ketika pecah. 

 Sederhana. Bermakna. 

Senin, 05 Maret 2012

Ini Rohisku, mana Rohismu?

"Ketika suatu hari, terbesit dalam hatimu
Tentang tanggung jawab kita, sebagai khalifah di bumi
Kita masih muda, semangat masih menggelora
Apakah akan kita sia-siakan dengan bersenang saja

Kita berjuang sebagai pelajar dengan cara yang ada
Tak usah bimbang, tak usah ragu tegak dan luruskan niatmu

Rohis, Rohaniah Islam tempat kita untuk berjuang
Menegakkan syariat islam dengan suri tauladan
Kami ada disini siap menggenggam tanganmu
Tegakkan langkah mu kobar semangat mu
Syuhada cita kita

Rohis SMA 1 Banjarnegara, Cerdas riang berakhlak mulia
Rohis SMA 1 Banjarnegara, Ceria!

Rohis, Rohaniah Islam tempat kita untuk berjuang
Menegakkan syariat islam dengan suri tauladan
Rohis ini jawabnya jika hari kecilmu bertanya
Pada tepat yang slalu diridhoi oleh Allah semata

Rohis SMA 1 Banjarnegara, Ceria!"

Dulu, lagu ini selalu menggema di lapangan basket SMA Negeri 1 Banjarnegara setiap acara Masa Orientasi Siswa (MOS). Ya, MOS. Disini siswa-siswi baru disuguhi beranega ragam kegitan untuk bisa lebih mengenal sekolah barunya.

Waktu itu, sekitar 4 tahun yang lalu (2008), saya berada di tengah-tengah lapangan basket Smansabara. Siswa-siswi baru berkumpul di pinggir-pinggir lapangan sambil duduk menikmati pertunjukan sekaligus pengenalan ekskul-ekskul yang ada di SMA tersebut. Hari sudah siang, namun terik matahari tak memudarkan suara-suara bising di tengah lapangan itu. Masing-masing anak bergerombol sesuai dengan kelasnya masing-masing.

Kemudian terdengar suara pembawa acara memanggil salah satu ekskul.
"Yang disini siaaaaap? yang disana siaaaaaap? baiklah, kita panggil ROHIS CERIAAA"

Serentak tepuk tangan menyambut pertunjukan dari rekan-rekan ROHIS.
Dua barisan siap maju memasuki lapangan  dari arah yang berlawanan. Barisan akhwat, dan barisan ikhwan.
Terlihat rapi, kokoh, kompak, bikin iri pokoknya.
Masing-masing barisan terlihat di isi oleh orang-orang yang penuh senyum dan saling menggenggam tangan saudara yang ada disamping kanan kirinya dengan menyilangkan tangan. Bergerak maju dan terus maju ke tengah lapangan. Hingga kedua barisan tersebut bertemu dan membentuk satu garis lurus ikhwan akhwat.

Seketika hening, peserta MOS tidak tahu apa yang akan mereka lihat. Terlihat raut muka penasaran di wajah mereka. begitu pula dengan saya yang masih saja menjadi penonton di garis tepi lapangan karena memang tidak ikut latihan untuk pertunjukan ini.

Suarapun mulai terdengar. Salam tak lupa diucapkan oleh Ketua ROHIS pada masa itu. Sapa di gaungkan hanya sekedar ingin tahu kabar dan kondisi peserta pada saat itu. Setelah beberapa menit menyapa, inilah yang mereka pertunjukan.

"Ketika suatu hari, terbesit dalam hatimu
Tentang tanggung jawab kita, sebagai khalifah di bumi
Kita masih muda, semangat masih menggelora
Apakah akan kita sia-siakan dengan bersenang saja

.........................................."

Tepuk tangan dari pesertapun mulai riuh. Pada saat sebelum mulai memasuki reff, beberapa rekan-rekan panitia ikut serta bergabung kedalam barisan ikut bernyanyi bersama. Satu orang, dua orang, tiga orang.. hingga hampir semua panitia (termasuk ketua OSIS nya ikut bergabung bersama barisan yang telah dibuat). Tak terkecuali saya, dengan antusiasnya saya langsung lari ke lapangan dan langsung menggenggam  salah seorang teman untuk kemudian ikut bergabung ke barisan.

Senandung lagu itu pun semakin kuat terasa. Bahkan tak jarang pesertapun ada yang bisa mengikuti dan menyanyi bersama. Sampai-sampai barisan tersebut tidak lurus lagi karena lebar lapangan yang tidak memungkinkan. Barisanpun mulai melengkung dengan tidak melepaskan genggaman tangan saudaranya.
Merinding...!
Begitu kuat ukhuwah itu kurasakan!

Sampai di akhir lagu, genggaman itu berubah menjadi sebuah rangkulan. Saling memeluk saudara-saudara yang ada di kanan kirinya. Makin kuat ukhuwah itu kurasakan.

Ending dari lagu tersebut kita membagi-bagikan secarik kertas berisi kata mutiara yang disematkan dengan pita cantik dan permen manis di dalamnya. Diiringi dengan tepukan meriah peserta kami undur diri dari lapangan. Sungguh ukhuwah itu terasa begitu indah. :D

Aku Tak Butuh Teman

Assalamu'alaikum guys! Apa kabar kamu? iya, kamu :) #apasihDan :p Hari ini hari jumat kan ya, mumpung lagi selow dan ada ide buat nul...